Di antara nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang diberikan kepada Nabi Yusuf ‘alaihissalam adalah dua keutamaan: Kebaikan yang bersifat lahiriah dan batiniah. Secara lahiriah, Nabi Yusuf ‘alaihissalam adalah seorang pemuda yang sangat tampan, dan secara batiniah beliau memiliki akhlak yang sangat mulia. Dengan dua hal ini, Nabi Yusuf ‘alaihissalam senantiasa bersabar ketika menjalani ujian-ujian yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta'ala, termasuk ketika digoda oleh wanita cantik dari kalangan bangsawan.
Kisah ini adalah kisah paling menakjubkan. Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkannya secara lengkap dan memaparkannya dalam satu surat khusus secara terperinci dan jelas. Membaca surat ini saja sudah cukup sehingga tidak butuh penafsiran. Dan dalam surat ini (Surat Yusuf), Allah Subhanahu wa Ta'ala menguraikan keadaan Nabi Yusuf ‘alaihissalam mulai dari awal hingga akhir kisah. Lengkap dengan peralihan tempat kejadian, pergantian situasi dan keadaan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
لَقَدْ كَانَ فِي يُوْسُفَ وَإِخْوَتِهِ آيَاتٌ لِلسَّائِلِيْنَ
“Sesungguhnya ada beberapa tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya.” (Yusuf: 7)
Akan kami sebutkan beberapa faedah penting yang disimpulkan dari sejarah besar ini. Dengan memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, kami memulainya.
BEBERAPA PELAJARAN PENTING DARI KISAH NABI YUSUF ‘ALAIHISSALAM
Kisah ini merupakan kisah yang paling baik dan jelas. Di dalamnya dipaparkan berbagai peralihan dari suatu keadaan kepada keadaan lainnya; dari satu ujian ke ujian berikutnya, dan dari sebuah ujian kepada karunia yang besar, dari kehinaan kepada derajat kemuliaan, dari rasa aman kepada rasa takut dan sebaliknya, dan seterusnya. Maha Suci Allah yang telah menceritakan hal ini dan menjadikannya sebagai pelajaran berharga bagi mereka yang bisa menggunakan akalnya. Di antara pelajaran tersebut adalah:
1. Diterangkan dalam kisah ini berbagai landasan pokok tentang ta’bir atau tafsir mimpi. Ilmu ta’bir mimpi ini adalah ilmu yang cukup penting yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Dan umumnya, hal-hal yang berkaitan serta dijadikan permisalan (tamtsil) dan penyerupaan adalah tentang sifat atau keadaan.
Dengan demikian, maka sisi keterkaitan mimpi Nabi Yusuf ‘alaihissalam, di mana beliau melihat matahari, bulan dan sebelas bintang bersujud kepadanya adalah sebagai berikut: Semua ini adalah benda-benda yang menghiasi langit, yang mempunyai berbagai manfaat. Begitu pula halnya para nabi, ulama, orang-orang pilihan, mereka adalah perhiasan di muka bumi. Dengan perantaraan mereka, seseorang akan terbimbing dalam kehidupannya di bumi sebagaimana dia terbimbing pula dengan cahaya dari langit (angkasa raya).
Ayahnya (Nabi Ya’qub ‘alaihissalam) dan ibunya adalah sumber (asal), sedangkan saudara-saudaranya adalah cabang (furu’). Maka sangat sesuai jika bentuk dan cahaya asal atau sumber lebih besar daripada cabang. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa matahari atau bulan adalah permisalan bagi ayah atau ibunya. Bintang-bintang menggambarkan saudara-saudaranya. Dan menyangkut hal ini, bahwa orang yang bersujud menunjukkan penghormatannya kepada yang dia sujudi. Dan yang menerima sujud ini, dia diagungkan lagi dihormati. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Yusuf ‘alaihissalam menjadi seorang yang diagungkan dan dihormati oleh kedua ibu bapaknya serta saudara-saudaranya.
Namun hal ini tidak akan sempurna kecuali dengan beberapa pendahuluan yang menggiring kepada semua perkara ini. Di antaranya adalah ilmu dan amalan serta sebagai pilihan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebab itulah Allah Subhanahu wa Ta'ala mengatakan:
وَكَذلِكَ يَجْتَبِيْكَ رَبُّكَ
“Dan demikianlah Rabbmu, telah memilihmu.” (Yusuf: 6)
Terkait dengan mimpi kedua pemuda yang dipenjara bersama Nabi Yusuf ‘alaihissalam, beliau menta’birkan (menafsirkan) mimpi seorang di antara mereka yang memeras anggur. Dan ini menunjukkan bahwa orang yang melakukan pekerjaan ini biasanya adalah pelayan bagi orang lain. Juga kenyataan bahwa perasan anggur itu untuk orang lain, sedangkan pelayan biasanya mengikuti yang dilayani. Atau dapat pula ditakwilkan memeras anggur di sini dengan memberi minum, yang juga menunjukkan pelakunya adalah pelayan bagi orang lain. Oleh sebab itulah beliau menakwilkannya kepada hal yang sesuai.
Adapun mimpi orang yang melihat dirinya membawa roti di atas kepalanya dan sebagiannya dimakan oleh burung, beliau menakwilkan bahwa dia akan dibunuh dan disalib sehingga burung memakan otaknya.
Lalu beliau menafsirkan mimpi Raja Mesir yang melihat beberapa ekor sapi dan butir-butir gandum sebagai masa-masa subur dan paceklik. Hubungannya adalah bahwa melalui raja itulah terikatnya segala persoalan kemaslahatan rakyat. Apabila rajanya baik maka baik pula urusan rakyat, dan apabila rajanya buruk (akhlaknya) urusan rakyatnya juga akan rusak. Inilah hubungan ketika dia melihat mimpi itu.
Apalagi tahun-tahun kesuburan dan paceklik terkait dengan keteraturan kehidupan atau tidaknya. Sapi termasuk alat untuk membajak tanah dan mengolah pertanian. Di sini terlihat adanya sebab dan akibat. Dalam mimpi itu terlihat pula 7 ekor sapi gemuk dan 7 ekor sapi kurus, 7 tangkai gandum yang hijau dan 7 tangkai yang kering. Maksudnya, tentu akan ada 7 tahun yang subur yang disusul 7 tahun kekeringan. Apa yang didapatkan dari pertanian diambil dan tidak disisakan kecuali sedikit yang mereka simpan.
Kalau dikatakan darimana diambil pengertian ayat:
ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذلِكَ عَامٌ فِيْهِ يُغَاثُ النَّاسُ وَفِيْهِ يَعْصِرُوْنَ
“Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan dan di masa itu mereka memeras anggur.” (Yusuf: 49)
Karena beberapa ahli tafsir mengatakan bahwa ini adalah tambahan dari Nabi Yusuf ‘alaihissalam dalam menerangkan takwil mimpi menurut wahyu yang diterimanya?
Jawabnya: Persoalannya tidaklah demikian. Sesungguhnya perkataan tersebut juga diucapkan berdasarkan mimpi raja itu. Karena masa-masa kekeringan hanya 7 tahun. Ini menunjukkan akan datang sesudahnya tahun-tahun kesuburan penuh keberkahan, yang akan menghapus kekeringan yang terjadi pada masa paceklik yang tidak dapat terhapus oleh masa-masa subur yang biasa. Namun hanya akan hilang dengan masa subur yang luar biasa keadaannya. Ini sangat jelas dan termasuk mafhum al-’adad (dikaitkannya suatu hukum dengan jumlah tertentu, ed).
2. Di dalamnya terdapat dalil atau bukti tentang kenabian Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Yaitu dengan diceritakannya sejarah ini secara terperinci dan panjang lebar kepada beliau sesuai kenyataan, yang mempunyai maksud dan tujuan yang jelas. Padahal beliau tidak (bisa) membaca kitab orang-orang terdahulu. Bahkan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah belajar kepada seorangpun, sebagaimana yang jelas diketahui oleh kaumnya. Beliau sendiri adalah seorang ummi, tidak pandai membaca dan menulis. Sebab itulah Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
ذلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوْحِيْهِ إِلَيْكَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ أَجْمَعُوا أَمْرَهُمْ وَهُمْ يَمْكُرُوْنَ
“Demikian itu di antara berita ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), padahal kamu tidak berada di sisi mereka, ketika mereka memutuskan rencananya dan mengatur tipu daya.” (Yusuf: 102)
3. Sepantasnya seorang manusia menjauhi faktor-faktor atau jalan yang mendorongnya kepada kejahatan. Dan hendaknya dia menyembunyikan hal-hal yang dikhawatirkan menimbulkan kemudaratan bagi dirinya. Sebagaimana perkataan Nabi Ya’qub kepada Yusuf dalam kisah ini:
لاَ تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى إِخْوَتِكَ فَيَكِيْدُوا لَكَ كَيْدًا
“Janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka akan membuat makar terhadapmu.” (Yusuf: 5)
4. Bolehnya menerangkan sesuatu yang tidak menyenangkan kepada seseorang dengan jujur dan sebagai nasehat bagi dirinya dan orang lain yang terkait. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala tentang ucapan Nabi Ya’qub:
فَيَكِيْدُوا لَكَ كَيْدًا
“Maka mereka akan membuat makar terhadapmu.” (Yusuf: 5)
5. Bahwa kenikmatan yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada seseorang adalah nikmat pula bagi orang-orang yang berkaitan atau berhubungan dengannya, baik keluarga, kerabat, ataupun sahabat-sahabatnya. Tentunya semua itu mencakup atau meliputi mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَعَلَى آلِ يَعْقُوْبَ
“Dan disempurnakan-Nya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub.” (Yusuf: 6)
Yaitu dengan semua yang engkau terima. Oleh karena itu, ketika nikmat itu semakin sempuna dirasakan oleh Nabi Yusuf, keluarga Nabi Ya’qub juga mendapatkan kemuliaan, kekuasaan dan kegembiraan. Hilanglah hal-hal yang tidak menyenangkan yang selama ini mereka rasakan dengan munculnya hal-hal yang menyenangkan sebagaimana disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala di akhir kisah ini.
6. Nikmat paling besar yang dianugerahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada manusia adalah nikmat diniyah (agama Islam). Dan semua itu harus ada sebab-sebab yang mendahuluinya serta jalan-jalan yang membawa kepada kenikmatan ini. Karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala –Yang Maha Memiliki hikmah dan mempunyai sunnah (aturan) yang tidak berubah– telah menetapkan bahwa cita-cita yang tinggi tidak mungkin tercapai kecuali dengan sebab yang bermanfaat. Khususnya dalam hal ini adalah ilmu bermanfaat berikut cabang-cabangnya, seperti akhlak dan perbuatan. Oleh karena itulah Nabi Ya’qub mengetahui bahwa Yusuf telah mencapai kedudukan yang mulia ini, di mana ayah ibunya serta saudara-saudaranya tunduk hormat kepadanya. Semua ini sudah tentu dengan kemudahan yang Allah Subhanahu wa Ta'ala berikan kepada Nabi Yusuf untuk menempuh sebab atau jalan menuju derajat yang tinggi ini. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
وَكَذلِكَ يَجْتَبِيْكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِنْ تَأْوِيْلِ اْلأَحَادِيْثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ
“Dan demikianlah Rabbmu, telah memilih kamu dan mengajarkan kepadamu sebagian takwil mimpi dan menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu.” (Yusuf: 6)
7. Sikap adil adalah perkara yang sangat dituntut dalam setiap permasalahan. Dalam masalah hubungan penguasa dan rakyatnya, kedua orang tua dengan anak-anaknya, hak-hak para isteri, dan lain-lain yang juga berkaitan dengan hubungan kasih sayang dan itsar (mengutamakan orang lain). Menegakkan keadilan dalam setiap permasalahan ini akan berbuah keserasian semua persoalan besar dan kecil sekaligus akan mendatangkan segala sesuatu yang disenangi.
Sebaliknya, apabila keadilan itu tidak ada, jelas akan menyebabkan kerusakan dan hal-hal yang tidak menyenangkan tanpa terasa. Karena itulah ketika Nabi Ya’qub ‘alaihissalam melebihkan rasa kasih sayangnya terhadap Yusuf menimbulkan ketidaksenangan pada saudara-saudara Yusuf terhadap ayah dan saudara mereka ini.
8. Peringatan keras tentang bahayanya dosa. Betapa banyak dosa yang melahirkan dosa-dosa berikutnya. Perhatikan kejahatan yang dilakukan oleh saudara-saudara Yusuf. Mereka ingin memisahkan Yusuf dari ayahnya, dan ini adalah suatu kejahatan. Kemudian mereka melancarkan berbagai muslihat. Mereka berdusta hingga beberapa kali, misalnya dengan menunjukkan baju Nabi Yusuf yang berlumur darah palsu kepada Ya’qub. Juga ketika mereka pulang sore hari sambil menangis. Jelas bahwa ucapan-ucapan yang terdapat dalam kasus ini berantai dan berbelit-belit.
Bahkan tidak jarang hal ini berlanjut ketika mereka berkumpul dengan Yusuf dan setiap kali membahas masalah ini. Namun semuanya adalah dusta dan palsu, dengan musibah yang terus menimpa Nabi Ya’qub serta Nabi Yusuf. Maka hendaklah seorang manusia berhati-hati dari perbuatan dosa, terutama dosa yang datang susul menyusul.
Lawan dari ini semua adalah sebagian ketaatan, yang merupakan satu ketaatan, akan tetapi manfaatnya berkelanjutan. Demikian pula berkahnya. Bahkan semua ini dapat dirasakan tidak hanya oleh pelakunya, tapi juga oleh orang lain. Semua ini merupakan pengaruh paling besar dari berkah yang Allah Subhanahu wa Ta'ala berikan kepada seseorang baik dalam ilmu dan amalannya.
9. Pelajaran berharga bagi seorang hamba bergantung kepada kesempurnaan di akhir perjalanan, bukan pada kekurangan yang ada di awalnya. Begitu pula halnya anak-anak Nabi Ya’qub ‘alaihissalam. Terjadi berbagai kekeliruan di awal kisah kehidupan mereka. Kemudian semua itu berujung pada taubat nashuha (taubat yang benar), pengakuan yang tulus, dan pemaafan yang sempurna dari Yusuf dan ayah mereka, serta doa kebaikan dan ampunan serta rahmat bagi mereka. Kalau seorang manusia telah memberikan keringanan atau memaafkan seseorang berkaitan dengan suatu hak tertentu, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala lebih berhak berbuat demikian. Dan Dia adalah Sebaik-baik Yang Penyayang lagi Maha Pengampun.
Oleh karena itulah yang paling benar dari semua pendapat yang ada bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjadikan mereka sebagai nabi dengan menghapus semua kekeliruan yang telah mereka lakukan. Seakan-akan pernyataan ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
وَمَا أُنْزِلَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَإِسْمَاعِيْلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوْبَ وَاْلأَسْبَاطِ
“Dan (beriman) pula dengan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan al-asbath.” (Ali ‘Imran: 84)
Al-Asbath adalah anak-anak Ya’qub yang duabelas orang dan anak cucu mereka. Pendapat ini diperkuat dengan mimpi yang dilihat Nabi Yusuf bahwa mereka adalah bintang-bintang, yang mempunyai cahaya dan petunjuk. Semua ini adalah sifat-sifat yang juga terdapat pada diri para nabi. Seandainya mereka bukan tergolong nabi, mereka adalah para ulama di kalangan hamba Allah Subhanahu wa Ta'ala.
10. Dalam kisah ini diterangkan betapa besar anugerah yang Allah Subhanahu wa Ta'ala berikan kepada Yusuf berupa ilmu, hilm (kelemahlembutan/tidak tergesa-gesa), akhlak yang mulia, berdakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan kepada agama-Nya. Juga pemberian maaf yang segera dilakukannya terhadap saudara-saudaranya yang bersalah. Hal itu semakin lengkap ketika beliau mengatakan bahwa tidak ada cercaan atas mereka sesudah pemaafan ini. Kemudian kebajikannya yang besar kepada kedua ibu bapaknya, limpahan kebaikannya kepada saudara-saudaranya serta makhluk Allah Subhanahu wa Ta'ala pada umumnya. Semua ini sangat jelas tergambar dalam sejarah hidup Nabi Yusuf ‘alaihissalam.
11. Sebagian kejahatan lebih ringan dari yang lain. Menempuh suatu kemudaratan yang lebih ringan dari dua mudarat yang ada jelas lebih utama. Maka tatkala saudara-saudara Nabi Yusuf mengatakan (dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala):
اقْتُلُوا يُوْسُفَ أَوِ اطْرَحُوهُ أَرْضًا
“Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah.” (Yusuf: 9)
Lalu ada yang memberikan saran (dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala):
لاَ تَقْتُلُوا يُوْسُفَ وَأَلْقُوْهُ فِي غَيَابَةِ الْجُبِّ يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ السَّيَّارَةِ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِيْنَ
“Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi lemparkanlah dia ke dasar sumur supaya dipungut oleh sebagian musafir, kalau kamu hendak berbuat.” (Yusuf: 10)
Tentunya perkataan ini lebih baik dari pendapat yang lain dan lebih ringan. Sehingga berdasarkan hal ini pula menjadi ringan pula dosa mereka. Ini merupakan sebagian dari sebab atau jalan yang telah Allah Subhanahu wa Ta'ala takdirkan bagi Nabi Yusuf untuk mencapai derajat yang diinginkan.
12. Segala sesuatu yang diperoleh dari suatu usaha dan menjadi bagian dari harta, namun orang-orang yang mengusahakannya tidak mengetahui bahwa itu tidak dilandasi syariat, maka tidak ada dosa bagi yang langsung memperjualbelikannya, memanfaatkan, atau menggunakan untuk suatu kepentingan. Dalam kisah ini, boleh dikatakan Nabi Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya dengan cara yang (sesungguhnya) diharamkan bagi mereka. Kemudian beliau dibeli oleh sebagian musafir berdasarkan anggapan bahwa beliau adalah budak saudara-saudaranya. Setelah itu mereka membawanya ke Mesir dan menjualnya kembali.
Tinggallah beliau bersama majikannya sebagai seoang pelayan atau budak. Namun di tengah-tengah mereka, Nabi Yusuf adalah seorang pelayan yang dihormati. Allah Subhanahu wa Ta'ala menamakan jual beli yang dilakukan musafir itu muamalah, dengan alasan yang telah kami paparkan.
13. Dalam kisah ini disebutkan bahaya berkhalwat (berduaan) dengan wanita ajnabiyah (bukan isteri atau budak dan bukan mahram), khususnya wanita-wanita yang dikhawatirkan akan menjerumuskan kepada fitnah. Juga anjuran agar menjauhi perasaan cinta atau suka yang dapat menimbulkan mudarat.
Dalam kisah ini, disebutkan bagaimana isteri pembesar tersebut mengalami hal ini karena sendirian bersama Yusuf ditambah lagi rasa cinta yang demikian hebat sehingga akhirnya dia menggoda Yusuf dengan cara sedemikian rupa. Akan tetapi kemudian dia justru mengingkari bahwa dialah yang merayu Nabi Yusuf sehingga akhirnya Nabi Yusuf dipenjara untuk waktu yang lama.
14. Keinginan yang ada dalam diri Nabi Yusuf yang kemudian beliau tinggalkan karena Allah Subhanahu wa Ta'ala dan karena bukti keimanan yang Allah Subhanahu wa Ta'ala letakkan dalam hatinya, termasuk hal-hal yang menaikkan derajat beliau semakin dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Karena suatu keinginan adalah salah satu faktor pendorong yang timbul dari hawa nafsu yang selalu menyuruh kepada kejahatan. Ini adalah naluri atau tabiat yang ada pada anak Adam (manusia).
Maka apabila keinginan itu terlaksana dengan kemaksiatan dan tidak ada sesuatu, baik keimanan ataupun rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala yang menghalanginya dari kemaksiatan itu, maka dia telah terjatuh kepada dosa. Dan jika seseorang itu beriman sempurna, maka keinginan naluriah ini apabila dihadapi oleh iman yang benar dan kuat, akan mencegahnya dari pengaruh yang ditimbulkan oleh keinginan tersebut, meskipun dorongan itu demikian hebat. Dan Nabi Yusuf ‘alaihissalam berada di atas tingkatan ini. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
لَوْلاَ أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ
“Andaikata dia tidak melihat tanda dari Rabbnya.” (Yusuf: 24)
Hal ini ditunjukkan pula dalam ayat:
كَذلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوْءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِيْنَ
“Demikianlah agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (Yusuf: 24)
Karena Allah Subhanahu wa Ta'ala mengistimewakannya, dan kekuatan iman serta keikhlasannya, Allah Subhanahu wa Ta'ala melepaskan beliau agar tidak terjerumus kepada perbuatan dosa. Jelas dari kisah ini bahwa Nabi Yusuf adalah termasuk segelintir manusia yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Beliau termasuk yang paling tinggi derajatnya di antara 7 golongan dari orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta'ala lindungi dengan naungan-Nya pada hari yang tidak ada lagi naungan selain naungan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyebutkan dalam sabda beliau bahwa salah satu dari tujuh golongan itu adalah seorang laki-laki yang dirayu oleh seorang wanita kaya dan cantik jelita, namun laki-laki itu berkata:
“Sesungguhnya aku takut kepada Allah.”1
Sementara keinginan wanita itu yang tidak ada yang menghalanginya, tetap mendorongnya untuk merayu Nabi Yusuf. Adapun keinginan yang muncul pada Nabi Yusuf kemudian lenyap dengan seketika setelah melihat burhan (tanda) dari Rabbnya.
15. Keimanan yang telah tertanam dalam kalbu seseorang, kemudian hati itu diterangi cahaya ma’rifat (pengenalan) dan iman kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam segenap keadaannya. Allah Subhanahu wa Ta'alaakan menjauhkannya dari setiap kejahatan dan kekejian dengan tanda keimanannya itu. Bahkan juga menjauhkannya dari berbagai jalan kemaksiatan sebagai balasan keimanan dan keikhlasannya. Karena Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menyebutkan bahwa hal-hal inilah yang menjadi alasan Dia menjauhkan kejelekan dan kekejian itu dari Nabi Yusuf. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
كَذلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوْءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلِصِيْنَ
“Sesungguhnya Yusuf termasuk hamba-hamba Kami yang mukhlis (berbuat ikhlas).” (Yusuf: 24)
Arti seperti ini apabila disandarkan kepada bacaan yang melafadzkan bunyi lam pada kata mukhlas dikasrah (berbunyi i), sehingga dibaca mukhlis yang artinya sebagaimana yang tercantum. Sedangkan menurut bacaan yang melafalkan lam dengan bunyi a tadi (mukhlash), artinya ialah apabila seorang hamba yang telah Allah Subhanahu wa Ta'ala bersihkan dan Allah Subhanahu wa Ta'ala pilih, maka tentulah dia seorang yang mukhlis, dengan demikian kedua pengertian ini saling berkaitan.
16. Apabila seseorang diuji dengan berada di tempat yang mengandung fitnah dan jalan yang membawa kepada kemaksiatan, hendaknya dia segera berupaya menghindar dan meninggalkan tempat itu semampunya agar selamat dari kejahatan tersebut. Sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Yusuf yang menyelamatkan dirinya menuju pintu keluar sementara wanita itu berusaha menarik bajunya dari belakang.
17. Suatu qarinah (indikasi) atau hal-hal yang mendukung dapat digunakan ketika terjadinya kesamaran dalam suatu tuduhan. Artinya, perlunya saksi dalam menentukan suatu keputusan dari suatu kasus, di mana dalam kasus Nabi Yusuf ini ditetapkan dengan adanya qarinah (tanda yang mendukung). Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
إِنْ كَانَ قَمِيْصُهُ قُدَّ مِنْ قُبُلٍ فَصَدَقَتْ وَهُوَ مِنَ الْكَاذِبِيْنَ. وَإِنْ كَانَ قَمِيْصُهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ فَكَذَبَتْ وَهُوَ مِنَ الصَّادِقِيْنَ
“Jika bajunya koyak di muka, maka wanita itu benar, dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta. Dan jika bajunya koyak di belakang, maka wanita itulah yang dusta dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar.” (Yusuf: 26-27)
Akhirnya keputusannya sesuai dengan fakta yang benar. Juga qarinah terdapatnya piala raja di dalam karung saudaranya, ketika para penjaga itu menyebutkan bahwa mereka kehilangan piala raja.
17. Dalam kisah disebutkan tentang ketampanan lahir batin yang dimiliki Nabi Yusuf. Dari ketampanan lahiriah yang dimilikinya menyebabkan tumbuhnya rasa cinta begitu hebat dalam diri wanita bangsawan itu. Dan ketika dia mendengar para wanita di kota itu mencelanya, dia mengundang mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
فَلَمَّا سَمِعَتْ بِمَكْرِهِنَّ أَرْسَلَتْ إِلَيْهِنَّ وَأَعْتَدَتْ لَهُنَّ مُتَّكَأً وَآتَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ سِكِّيْنًا وَقَالَتِ اخْرُجْ عَلَيْهِنَّ فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ لِلّهِ مَا هَذَا بَشَرًا إِنْ هَذَا إِلاَّ مَلَكٌ كَرِيْمٌ
“Maka tatkala wanita itu mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau, lalu dia berkata (kepada Yusuf): ”Keluarlah kepada mereka!” Tatkala para wanita itu melihatnya, mereka kagum akan (ketampanannya), dan mereka mengiris jari mereka dan berkata: “Maha Suci Allah. Ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain adalah malaikat yang mulia.” (Yusuf: 31)
Sedangkan keindahan batin beliau, terlihat dari sikap ‘iffah (menjaga kehormatan) yang besar pada diri beliau, seiring dengan adanya dorongan yang kuat untuk terjerumus kepada kemaksiatan. Akan tetapi cahaya keimanan dan kekuatan keikhlasan yang tidak mungkin seorang mulia menyimpang dari keduanya, dan tidak mungkin terkumpul pada orang yang hina (telah menahan beliau dari semua itu).
Bahkan telah dijelaskan pula oleh isteri pembesar itu bahwa dua karakter (kecantikan lahir dan batin) ini ada pada diri Nabi Yusuf. Yakni, ketika dia memperlihatkan kepada para wanita itu kecantikan lahiriah yang diakui pula oleh mereka bahwa kecantikan ini tidak mungkin ada pada manusia, isteri pembesar itu berkata, sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta'ala sebutkan dalam ayat:
وَلَقَدْ رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ فَاسْتَعْصَمَ
“Dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya kepadaku, tapi dia menolak.” (Yusuf: 32)
Kemudian dia mengatakan pula sesudah perkataan itu:
اْلآنَ حَصْحَصَ الْحَقُّ أَنَا رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِيْنَ
“Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya kepadaku, dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar.” (Yusuf: 51)
18. Nabi Yusuf ‘alaihissalam lebih memilih dipenjara daripada terjerumus kepada kemaksiatan. Demikianlah seharusnya ketika seseorang dihadapkan kepada satu dari dua pilihan; jatuh kepada kemaksiatan atau menerima hukuman dunia. Seharusnya dia memilih hukuman duniawi yang justru di balik itu terdapat pahala dari beberapa sisi, pahala atas pilihannya terhadap keimanannya daripada keselamatan dari hukuman dunia, pahala dari segi bahwa hal ini adalah bentuk penyucian dan pemurnian seorang mukmin, di mana hal ini termasuk dalam kerangka jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Juga pahala dari sisi musibah yang diterimanya serta sakit yang dirasakannya.
Maha Suci Allah yang memberikan kenikmatan dan menunjukkan kelembutan-Nya kepada hamba-hamba pilihan-Nya melalui cobaan atau ujian-Nya. Hal ini juga merupakan tanda-tanda keimanan dan kebahagiaan.
(Bersambung, Insya Allah)
(Diambil dari kitab Taisir Al-Lathif Al-Manan fi Khulashah Tafsiri Al-Qur`an karya Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah)
Jumat, 01 Januari 2010
MENDETEKSI SEHATNYA QALBU
Qalbu yang sehat memiliki beberapa tanda, sebagaimana yang disebutkan oleh al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah di dalam kitab Ighatsatul Lahfan min Mashayid asy-Syaithan. Dan di antara tanda-tanda tersebut adalah mampu memilih segala sesuatu yang bermanfaat dan memberikan kesembuhan. Dia tidak memilih hal-hal yang berbahaya serta menjadikan sakitnya qalbu. Sedangkan tanda qalbu yang sakit adalah sebaliknya. Santapan qalbu yang paling bermanfaat adalah keimanan dan obat yang paling manjur adalah al-Quran. Selain itu, qalbu yang sehat memiliki karakteristik sebagai berikut:
1.Mengembara ke Akhirat
Qalbu yang sehat mengembara dari dunia menuju ke akhirat dan seakan-akan telah sampai di sana. Sehingga dia merasa seperti telah menjadi penghuni akhirat dan putra-putra akhirat. Dia datang dan berada di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing, yang mengambil sekedar keperluannya, lalu akan segera kembali lagi ke negeri asalnya. Nabi shallallhu `alaihi wasallam bersabda,
“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau (musafir) yang melewati suatu jalan.” (HR. al-Bukhari)
Ketika qalbu seseorang sehat, maka dia akan mengembara menuju akhirat dan terus mendekat ke arahnya, sehingga seakan-akan dia telah menjadi penghuninya. Sedangkan bila qalbu tersebut sakit, maka dia terlena mementingkan dunia dan menganggapnya sebagai negeri abadi, sehingga jadilah dia ahli dan hambanya.
2.Mendorong Menuju Allah subhanahu wa ta’ala
Di antara tanda lain sehatnya qalbu adalah selalu mendorong si empunya untuk kembali kepada Allah subhanahu wata`ala dan tunduk kepada-Nya. Dia bergantung hanya kepada Allah, mencintai-Nya sebagaimana seseorang mencintai kekasihnya. Tidak ada kehidupan, kebahagiaan, kenikmatan, kesenangan kecuali hanya dengan ridha Allah, kedekatan dan rasa jinak terhadap-Nya. Merasa tenang dan tentram dengan Allah, berlindung kepada-Nya, bahagia bersama-Nya, bertawakkal hanya kepada-Nya, yakin, berharap dan takut kepada Allah semata.
Maka qalbu tersebut akan selalu mengajak dan mendorong pemiliknya untuk menemukan ketenangan dan ketentraman bersama Ilah sembahan nya. Sehingga tatkala itulah ruh benar-benar merasakan kehidupan, kenikmatan dan menjadikan hidup lain daripada yang lain, bukan kehidupan yang penuh kelalaian dan berpaling dari tujuan penciptaan manusia. Untuk tujuan menghamba kepada Allah subhanahu wataala inilah surga dan neraka diciptakan, para rasul diutus dan kitab-kitab diturunkan.
Abul Husain al-Warraq berkata, “Hidupnya qalbu adalah dengan mengingat Dzat Yang Maha Hidup dan Tak Pernah Mati, dan kehidupan yang nikmat adalah kehidupan bersama Allah, bukan selain-Nya.”
Oleh karena itu terputusnya seseorang dari Allah subhanahu wa ta’ala dan lebih dahsyat bagi orang-orang arif yang mengenal Allah daripada kematian, karena terputus dari Allah adalah terputus dari al-Haq, sedang kematian adalah terputus dari sesama manusia.
3.Tidak Bosan Berdzikir
Di antara sebagian tanda sehatnya qalbu adalah tidak pernah bosan untuk berdzikir mengingat Allah subhanahu wata’ala. Tidak pernah merasa jemu untuk mengabdi kepada-Nya, tidak terlena dan asyik dengan selain-Nya, kecuali kepada orang yang menunjukkan ke jalan-Nya, orang yang mengingatkan dia kepada Allah subhanahu wataala atau saling mengingatkan dalam kerangka berdzikir kepada-Nya.
4. Menyesal jika Luput dari Berdzikir
Qalbu yang sehat di antara tandanya adalah, jika luput dan ketinggalan dari dzikir dan wirid, maka dia sangat menyesal, merasa sedih dan sakit melebihi sedihnya seorang bakhil yang kehilangan hartanya.
5. Rindu Beribadah
Qalbu yang sehat selalu rindu untuk menghamba dan mengabdi kepada Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana rindunya seorang yang kelaparan terhadap makanan dan minuman.
6.Khusyu’ dalam Shalat
Qalbu yang sehat adalah jika dia sedang melakukan shalat, maka dia tinggalkan segala keinginan dan sesuatu yang bersifat keduniaan. Sangat memperhatikan masalah shalat dan bersegera melakukannya, serta mendapati ketenangan dan kenikmatan di dalam shalat tersebut. Baginya shalat merupakan kebahagiaan dan penyejuk hati dan jiwa.
7.Kemauannya Hanya kepada Allah
Qalbu yang sehat hanya satu kemauannya, yaitu kepada segala sesuatu yang diridhai Allah subhanahu wata`ala.
8. Menjaga Waktu
Di antara tanda sehatnya qalbu adalah merasa kikir (sayang) jika waktunya hilang dengan percuma, melebihi kikirnya seorang yang pelit terhadap hartanya.
9. Introspeksi dan Memperbaiki Diri
Qalbu yang sehat senantiasa menaruh perhatian yang besar untuk terus memperbaiki amal, melebihi perhatian terhadap amal itu sendiri. Dia terus bersemangat untuk meningkat kan keikhlasan dalam beramal, mengharap nasihat, mutaba’ah (mengontrol) dan ihsan (seakan-akan melihat Allah subhanahu wataala dalam beribadah, atau selalu merasa dilihat Allah). Bersamaan dengan itu dia selalu memperhatikan pemberian dan nikmat dari Allah subhanahu wata’ala serta kekurangan dirinya di dalam memenuhi hak-hak-Nya.
Demikian di antara beberapa fenomena dan karakteristik yang mengindikasikan sehatnya qalbu seseorang.
Dapat disimpulkan bahwa qalbu yang sehat dan selamat adalah qalbu yang himmah (kemauannya) kepada sesuatu yang menuju Allah subhanahu wata’ala, mencintai-Nya dengan sepenuhnya, menjadikan-Nya sebagai tujuan. Jiwa raganya untuk Allah, amalan, tidur, bangun dan bicaranya hanyalah untuk-Nya. Dan ucapan tentang segala yang diridhai Allah lebih dia sukai daripada segenap pembicaran yang lain, pikirannya selalu tertuju kepada apa saja yang diridhai dan dicintai-Nya.
Berkhalwah (menyendiri) untuk mengingat Allah subhanahu wata`ala lebih dia sukai daripada bergaul dengan orang, kecuali dalam pergaulan yang dicintai dan diridhai-Nya. Kebahagiaan dan ketenangannya adalah bersama Allah, dan ketika dia mendapati dirinya berpaling kepada selain Allah, maka dia segera mengingat firman-Nya:
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. (QS. 89:27-28)
Dia selalu mengulang-ulang ayat tersebut, dengan harapan dia akan mendengarkannya nanti pada hari Kiamat dari Rabbnya. Maka akhirnya qalbu tersebut di hadapan Ilah dan Sesembahannya yang Haq akan terwarnai dengan sibghah (celupan) sifat kehambaan. Sehingga jadilah abdi sejati sebagai sifat dan karakternya, ibadah menjadi kenikmatannya bukan beban yang memberatkan. Dia melakukan ibadah dengan rasa suka, cinta dan kedekatan kepada Rabbnya.
Ketika disodorkan kepadanya perintah atau larangan dari Rabbnya, maka hatinya mengatakan, “Aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi dengan suka cita, sesungguhnya aku mendengarkan, taat dan akan melakukannya. Engkau berhak dan layak mendapatkan semua itu, dan segala puji kembali hanya kepada-Mu.
Apabila ada takdir menimpanya maka dia mengatakan, ” Ya Allah, aku adalah hamba-Mu, miskin dan membutuhkan-Mu, aku hamba-Mu yang fakir, lemah tak berdaya. Engkau adalah Rabbku yang Maha Mulia dan Maha Penyayang. Aku tak mampu untuk bersabar jika Engkau tidak menolongku untuk bersabar, tidak ada kekuatan bagiku jika Engkau tidak menanggungku dan memberiku kekuatan. Tidak ada tempat bersandar bagiku kecuali hanya kepada-Mu, tidak ada yang dapat memberikan pertolongan kepadaku kecuali hanya Engkau. Tidak ada tempat berpaling bagiku dari pintu-Mu, dan tidak ada tempat untuk berlari dari-Mu.
Dia mempersembahkan segalanya hanya untuk Allah subhanahu wataala, dan dia hanya bersandar kepada-Nya. Apabila menimpanya sesuatu yang tidak dia sukai maka dia berkata, “Rahmat telah dihadiahkan untukku, obat yang sangat bermanfaat dari Dzat Pemberi Kesembuhan yang mengasihiku.” Jika dia kehilangan sesuatu yang dia sukai, maka dia berkata, “Telah disingkirkan keburukan dari sisiku.”
Semoga Allah subhanahu wataala memperbaiki qalbu kita semua, dan menjaganya dari penyakit-penyakit yang merusak dan membinasakan, Amin.
Sumber: Mawaridul Aman al Muntaqa min Ighatsatil Lahfan fi Mashayid asy-Syaithan, penyusun Syaikh Ali bin Hasan bin Ali al-Halabi.
Menyampaikan Kebenaran adalah kewajiban setiap Muslim. Kesempatan kita saat ini untuk berdakwah adalah dengan menyampaikan buletin ini kepada saudara-saudara kita yang belum mengetahuinya.
Semoga Allah Ta’ala Membalas ‘Amal Ibadah Kita. Aamiin
1.Mengembara ke Akhirat
Qalbu yang sehat mengembara dari dunia menuju ke akhirat dan seakan-akan telah sampai di sana. Sehingga dia merasa seperti telah menjadi penghuni akhirat dan putra-putra akhirat. Dia datang dan berada di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing, yang mengambil sekedar keperluannya, lalu akan segera kembali lagi ke negeri asalnya. Nabi shallallhu `alaihi wasallam bersabda,
“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau (musafir) yang melewati suatu jalan.” (HR. al-Bukhari)
Ketika qalbu seseorang sehat, maka dia akan mengembara menuju akhirat dan terus mendekat ke arahnya, sehingga seakan-akan dia telah menjadi penghuninya. Sedangkan bila qalbu tersebut sakit, maka dia terlena mementingkan dunia dan menganggapnya sebagai negeri abadi, sehingga jadilah dia ahli dan hambanya.
2.Mendorong Menuju Allah subhanahu wa ta’ala
Di antara tanda lain sehatnya qalbu adalah selalu mendorong si empunya untuk kembali kepada Allah subhanahu wata`ala dan tunduk kepada-Nya. Dia bergantung hanya kepada Allah, mencintai-Nya sebagaimana seseorang mencintai kekasihnya. Tidak ada kehidupan, kebahagiaan, kenikmatan, kesenangan kecuali hanya dengan ridha Allah, kedekatan dan rasa jinak terhadap-Nya. Merasa tenang dan tentram dengan Allah, berlindung kepada-Nya, bahagia bersama-Nya, bertawakkal hanya kepada-Nya, yakin, berharap dan takut kepada Allah semata.
Maka qalbu tersebut akan selalu mengajak dan mendorong pemiliknya untuk menemukan ketenangan dan ketentraman bersama Ilah sembahan nya. Sehingga tatkala itulah ruh benar-benar merasakan kehidupan, kenikmatan dan menjadikan hidup lain daripada yang lain, bukan kehidupan yang penuh kelalaian dan berpaling dari tujuan penciptaan manusia. Untuk tujuan menghamba kepada Allah subhanahu wataala inilah surga dan neraka diciptakan, para rasul diutus dan kitab-kitab diturunkan.
Abul Husain al-Warraq berkata, “Hidupnya qalbu adalah dengan mengingat Dzat Yang Maha Hidup dan Tak Pernah Mati, dan kehidupan yang nikmat adalah kehidupan bersama Allah, bukan selain-Nya.”
Oleh karena itu terputusnya seseorang dari Allah subhanahu wa ta’ala dan lebih dahsyat bagi orang-orang arif yang mengenal Allah daripada kematian, karena terputus dari Allah adalah terputus dari al-Haq, sedang kematian adalah terputus dari sesama manusia.
3.Tidak Bosan Berdzikir
Di antara sebagian tanda sehatnya qalbu adalah tidak pernah bosan untuk berdzikir mengingat Allah subhanahu wata’ala. Tidak pernah merasa jemu untuk mengabdi kepada-Nya, tidak terlena dan asyik dengan selain-Nya, kecuali kepada orang yang menunjukkan ke jalan-Nya, orang yang mengingatkan dia kepada Allah subhanahu wataala atau saling mengingatkan dalam kerangka berdzikir kepada-Nya.
4. Menyesal jika Luput dari Berdzikir
Qalbu yang sehat di antara tandanya adalah, jika luput dan ketinggalan dari dzikir dan wirid, maka dia sangat menyesal, merasa sedih dan sakit melebihi sedihnya seorang bakhil yang kehilangan hartanya.
5. Rindu Beribadah
Qalbu yang sehat selalu rindu untuk menghamba dan mengabdi kepada Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana rindunya seorang yang kelaparan terhadap makanan dan minuman.
6.Khusyu’ dalam Shalat
Qalbu yang sehat adalah jika dia sedang melakukan shalat, maka dia tinggalkan segala keinginan dan sesuatu yang bersifat keduniaan. Sangat memperhatikan masalah shalat dan bersegera melakukannya, serta mendapati ketenangan dan kenikmatan di dalam shalat tersebut. Baginya shalat merupakan kebahagiaan dan penyejuk hati dan jiwa.
7.Kemauannya Hanya kepada Allah
Qalbu yang sehat hanya satu kemauannya, yaitu kepada segala sesuatu yang diridhai Allah subhanahu wata`ala.
8. Menjaga Waktu
Di antara tanda sehatnya qalbu adalah merasa kikir (sayang) jika waktunya hilang dengan percuma, melebihi kikirnya seorang yang pelit terhadap hartanya.
9. Introspeksi dan Memperbaiki Diri
Qalbu yang sehat senantiasa menaruh perhatian yang besar untuk terus memperbaiki amal, melebihi perhatian terhadap amal itu sendiri. Dia terus bersemangat untuk meningkat kan keikhlasan dalam beramal, mengharap nasihat, mutaba’ah (mengontrol) dan ihsan (seakan-akan melihat Allah subhanahu wataala dalam beribadah, atau selalu merasa dilihat Allah). Bersamaan dengan itu dia selalu memperhatikan pemberian dan nikmat dari Allah subhanahu wata’ala serta kekurangan dirinya di dalam memenuhi hak-hak-Nya.
Demikian di antara beberapa fenomena dan karakteristik yang mengindikasikan sehatnya qalbu seseorang.
Dapat disimpulkan bahwa qalbu yang sehat dan selamat adalah qalbu yang himmah (kemauannya) kepada sesuatu yang menuju Allah subhanahu wata’ala, mencintai-Nya dengan sepenuhnya, menjadikan-Nya sebagai tujuan. Jiwa raganya untuk Allah, amalan, tidur, bangun dan bicaranya hanyalah untuk-Nya. Dan ucapan tentang segala yang diridhai Allah lebih dia sukai daripada segenap pembicaran yang lain, pikirannya selalu tertuju kepada apa saja yang diridhai dan dicintai-Nya.
Berkhalwah (menyendiri) untuk mengingat Allah subhanahu wata`ala lebih dia sukai daripada bergaul dengan orang, kecuali dalam pergaulan yang dicintai dan diridhai-Nya. Kebahagiaan dan ketenangannya adalah bersama Allah, dan ketika dia mendapati dirinya berpaling kepada selain Allah, maka dia segera mengingat firman-Nya:
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. (QS. 89:27-28)
Dia selalu mengulang-ulang ayat tersebut, dengan harapan dia akan mendengarkannya nanti pada hari Kiamat dari Rabbnya. Maka akhirnya qalbu tersebut di hadapan Ilah dan Sesembahannya yang Haq akan terwarnai dengan sibghah (celupan) sifat kehambaan. Sehingga jadilah abdi sejati sebagai sifat dan karakternya, ibadah menjadi kenikmatannya bukan beban yang memberatkan. Dia melakukan ibadah dengan rasa suka, cinta dan kedekatan kepada Rabbnya.
Ketika disodorkan kepadanya perintah atau larangan dari Rabbnya, maka hatinya mengatakan, “Aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi dengan suka cita, sesungguhnya aku mendengarkan, taat dan akan melakukannya. Engkau berhak dan layak mendapatkan semua itu, dan segala puji kembali hanya kepada-Mu.
Apabila ada takdir menimpanya maka dia mengatakan, ” Ya Allah, aku adalah hamba-Mu, miskin dan membutuhkan-Mu, aku hamba-Mu yang fakir, lemah tak berdaya. Engkau adalah Rabbku yang Maha Mulia dan Maha Penyayang. Aku tak mampu untuk bersabar jika Engkau tidak menolongku untuk bersabar, tidak ada kekuatan bagiku jika Engkau tidak menanggungku dan memberiku kekuatan. Tidak ada tempat bersandar bagiku kecuali hanya kepada-Mu, tidak ada yang dapat memberikan pertolongan kepadaku kecuali hanya Engkau. Tidak ada tempat berpaling bagiku dari pintu-Mu, dan tidak ada tempat untuk berlari dari-Mu.
Dia mempersembahkan segalanya hanya untuk Allah subhanahu wataala, dan dia hanya bersandar kepada-Nya. Apabila menimpanya sesuatu yang tidak dia sukai maka dia berkata, “Rahmat telah dihadiahkan untukku, obat yang sangat bermanfaat dari Dzat Pemberi Kesembuhan yang mengasihiku.” Jika dia kehilangan sesuatu yang dia sukai, maka dia berkata, “Telah disingkirkan keburukan dari sisiku.”
Semoga Allah subhanahu wataala memperbaiki qalbu kita semua, dan menjaganya dari penyakit-penyakit yang merusak dan membinasakan, Amin.
Sumber: Mawaridul Aman al Muntaqa min Ighatsatil Lahfan fi Mashayid asy-Syaithan, penyusun Syaikh Ali bin Hasan bin Ali al-Halabi.
Menyampaikan Kebenaran adalah kewajiban setiap Muslim. Kesempatan kita saat ini untuk berdakwah adalah dengan menyampaikan buletin ini kepada saudara-saudara kita yang belum mengetahuinya.
Semoga Allah Ta’ala Membalas ‘Amal Ibadah Kita. Aamiin
Kisah Penuh Hikmah dari Penjaga Kebun Delima
Dikisahkan, ada seorang mantan budak kurus yang dimerdekakan oleh tuannya. Namanya Mubarak. Setelah merdeka, dia bekerja pada seorang pemiliki kebun sebagai buruh. Suatu hari, sang tuan mengunjungi kebunnya bersama dengan beberapa sahabtnya. Dipanggillah Mubarak, "petikkan kami beberapa buah delima yang manis!," pintanya.
Bergegaslah Mubarak melaksanakan perintah sang tuan. Dia memetik beberapa buah delima dan diserahkannya kepada sang majikan dan beberapa sahabatnya tadi.
Namun, ketika majikannya mencicipi delima yang dipetik Mubarak, tak satupun ada yang manis. Semuanya masam. Sang majikan marah dan menanyai mubarak, "apa kamu tak bisa membedakan delima yang manis dan yang masam?"
"Selama ini Anda tak pernah mengizinkan saya makan barang sebuahpun, bagaimana saya bisa membedakan yang delima yang manis dan yang masam?," jawab Mubarak.
Sang tuan merasa kaget dan tak percaya, bertahun-tahun bekerja di kebun itu, tapi Mubarak tak pernah makan satu buahpun. Maka ia menanyakan hal itu kepada tetangga-tetangganya. Mereka semua menjawab, Mubarak tak pernah makan delima barang sebuahpun.
Singkat cerita, selang beberapa hari, sang tuan datang menemui Mubarak untuk dimintai pendapatnya. "Aku hanya punya seorang anak perempuan, dengan siapa aku harus menikahkannya?"
>>Orang Yahudi menikahkan karena kekayaan . . . Orang Nashrani menikahkan karena ketampanan . . .
Mubarak menjawab dengan tenang, "tuan, orang Yahudi menikahkan karena kekayaan, orang Nashrani menikahkan karena ketampanan, orang Jahiliyah menikahkan karena nasab kebangsawanan, sedangkan orang Islam menikahkan karena ketakwaan. Tuan termasuk golongan mana silahkan tuan menikahkan putri tuan dengan cara mereka!"
>>Orang Jahiliyah menikahkan karena nasab kebangsawanan . . . Sedangkan orang Islam menikahkan karena ketakwaan.
Pemilik kebun itu berkata, "demi Allah, aku hanya akan menikahkan putriku atas dasar ketakwaan. Dan aku tidak mendapati laki-laki yang lebih bertakwa kepada Allah melebihi dirimu. Maka aku akan menikahkan putriku denganmu."
Subahanallah, Mubarak menjaga dirinya dari makan buah delima di kebun yang dia bekerja di sana karena belum pernah diizinkan oleh pemiliknya, namun akhirnya Allah anugerahkan kebun itu beserta pemiliknya kepadanya. Balasan memang sesuai dengan amal. Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.
Subahanallah, Mubarak menjaga dirinya dari makan buah delima di kebun yang dia bekerja di sana karena belum pernah diizinkan oleh pemiliknya, namun akhirnya Allah anugerahkan kebun itu beserta pemiliknya kepadanya.
Seorang Arab Badui menceritakan, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah memegang tanganku kamudian mengajariku sebagian yang telah Allah ajarkan padanya. Beliau bersabda,
إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا اتِّقَاءَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا أَعْطَاكَ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ
"Sesunguhnya, tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena rasa takut kepada Allah 'Azza wa Jalla melainkan Allah akan memberikan kepadamu yang lebih baik darinya. " (HR. Ahmad)
Maka dari rumah tangga yang dibina Mubarak atas dasar ketakwaan tadi, lahirlah seorang syaikhul Islam, ulama besar, muhaddits ternama, mujahid yang pemberani, seorang kaya yang dermawan; Abdullah Ibnul Mubarak rahimahullah. (PurWD/voa-islam)
Bergegaslah Mubarak melaksanakan perintah sang tuan. Dia memetik beberapa buah delima dan diserahkannya kepada sang majikan dan beberapa sahabatnya tadi.
Namun, ketika majikannya mencicipi delima yang dipetik Mubarak, tak satupun ada yang manis. Semuanya masam. Sang majikan marah dan menanyai mubarak, "apa kamu tak bisa membedakan delima yang manis dan yang masam?"
"Selama ini Anda tak pernah mengizinkan saya makan barang sebuahpun, bagaimana saya bisa membedakan yang delima yang manis dan yang masam?," jawab Mubarak.
Sang tuan merasa kaget dan tak percaya, bertahun-tahun bekerja di kebun itu, tapi Mubarak tak pernah makan satu buahpun. Maka ia menanyakan hal itu kepada tetangga-tetangganya. Mereka semua menjawab, Mubarak tak pernah makan delima barang sebuahpun.
Singkat cerita, selang beberapa hari, sang tuan datang menemui Mubarak untuk dimintai pendapatnya. "Aku hanya punya seorang anak perempuan, dengan siapa aku harus menikahkannya?"
>>Orang Yahudi menikahkan karena kekayaan . . . Orang Nashrani menikahkan karena ketampanan . . .
Mubarak menjawab dengan tenang, "tuan, orang Yahudi menikahkan karena kekayaan, orang Nashrani menikahkan karena ketampanan, orang Jahiliyah menikahkan karena nasab kebangsawanan, sedangkan orang Islam menikahkan karena ketakwaan. Tuan termasuk golongan mana silahkan tuan menikahkan putri tuan dengan cara mereka!"
>>Orang Jahiliyah menikahkan karena nasab kebangsawanan . . . Sedangkan orang Islam menikahkan karena ketakwaan.
Pemilik kebun itu berkata, "demi Allah, aku hanya akan menikahkan putriku atas dasar ketakwaan. Dan aku tidak mendapati laki-laki yang lebih bertakwa kepada Allah melebihi dirimu. Maka aku akan menikahkan putriku denganmu."
Subahanallah, Mubarak menjaga dirinya dari makan buah delima di kebun yang dia bekerja di sana karena belum pernah diizinkan oleh pemiliknya, namun akhirnya Allah anugerahkan kebun itu beserta pemiliknya kepadanya. Balasan memang sesuai dengan amal. Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.
Subahanallah, Mubarak menjaga dirinya dari makan buah delima di kebun yang dia bekerja di sana karena belum pernah diizinkan oleh pemiliknya, namun akhirnya Allah anugerahkan kebun itu beserta pemiliknya kepadanya.
Seorang Arab Badui menceritakan, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah memegang tanganku kamudian mengajariku sebagian yang telah Allah ajarkan padanya. Beliau bersabda,
إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا اتِّقَاءَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا أَعْطَاكَ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ
"Sesunguhnya, tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena rasa takut kepada Allah 'Azza wa Jalla melainkan Allah akan memberikan kepadamu yang lebih baik darinya. " (HR. Ahmad)
Maka dari rumah tangga yang dibina Mubarak atas dasar ketakwaan tadi, lahirlah seorang syaikhul Islam, ulama besar, muhaddits ternama, mujahid yang pemberani, seorang kaya yang dermawan; Abdullah Ibnul Mubarak rahimahullah. (PurWD/voa-islam)
LAPANGNYA DADA
Pada suatu hari ada seorang pemuda yang datang ke rumah seorang kakek yang bijaksana. Pemuda tersebut mhttp://www.yahoo.com/erasakan hatinya sering gelisah, panik, stress, dan mudah tersinggung sehingga hal itu menyebabkannya selalu berada dalam medan konflik. Untuk itulah ia datang untuk meminta nasehat sang kakek. Kakek itu pun dengan sangat antusias menerima dan mempersilahkannya untuk masuk. Kemudian pemuda itu menceritakan seluruh keluh kesahnya. Sementara sang kakek mendengarkan dengan seksama. Setelah selesai, kakek itu masuk ke dalam rumah kemudian keluar dengan membawa segelas air putih.
"Silahkan diminum” kata sang kakek.
Betapa terkejutnya pemuda itu ketika ia meminum air yang dihidangkan oleh kakek itu.
“Ah… air apa ini kek? Kenapa rasanya asin sekali. Aku belum pernah minum air se-asin ini”.
Sang kakek hanya tersenyum, kemudian mengajak pemuda tersebut ke halaman belakang rumahnya yang luas. Disana terdapat sebuah danau kecil yang airnya bening bersih. Terlihat pula seekor angsa berenang kian kemari. Sang kakek kemudian mendekati pinggir danau dan menaburkan segenggam garam ke seluruh danau sambil menyuruh pemuda itu minum air danau. Tentu saja pemuda itu merasakan air danau yang segar, sejuk dan jernih.
Sang kakek berkata, "Perumpaan gelas dan danau ini adalah seperti hati kita, dan garam sebagai permasalahannya. Terkadang bukan banyaknya masalah yang membuat hati resah, gelisah, dan lainnya. Tetapi karena kita tidak pandai melapangkan dada kita. Segenggam garam ternyata jadi sangat asin dan tidak enak apabila ditaruh pada segelas air. Namun segenggam garam tidak berarti apa-apa apabila kita memiliki hati seluas danau atau lebih luas dari itu".
Cerita diatas sangat menarik untuk disimak dan diresapi karena begitu mudahnya penyakit hati tumbuh berkembang di hati kita. Beratnya masalah tidak mempengaruhi kesehatan hati kalau kita bisa berlapang dada. Orang–orang yang sempit dada (hati), pasti akan merasakan hidup ini sumpek dan berat.
Hati adalah hal yang paling penting dari diri manusia. Menurut Ibnul Qayyim Al Jauziyah, Hati adalah raja, dan anggota tubuh lain prajuritnya. Bahkan diterima atau tidaknya amal seorang anak manusia, tergantung dari hatinya. Allah mengingatkan kita mengenai pentingnya mengelola hati dengan menyuruh kita untuk tidak bersu’udzon karena sebagian darinya adalah dusta. Kita juga dilarang untuk mencari tahu (tajassus), serta selalu mengkonfirmasi setiap berita yang masuk ke kepala kita.
Rasulullah-pun mengingatkan bahwa di dalam diri manusia ada segumpal daging yang kalau baik daging itu maka baik pula seluruh tubuh dan apabila jahat (jelek) maka jelek pula seluruh tubuh. Segumpal daging itu adalah hati.
Kadang rasanya berat sekali untuk melapangkan dada ini ketika dikecewakan dan disakiti oleh orang lain. Bahkan persoalan kecilpun akhirnya menjadi besar karena sempitnya hati ini. Hati yang sempit selalu membuat diri ini tidak mampu menerima kebenaran.
Dalam konsep Zeromind Process (Ary Ginanjar, ESQ) kita diingatkan untuk selalu kembali ke fitrah atau hati nurani (Zeromind) sebelum melakukan dan memutuskan apapun. Hal–hal yang biasanya menghambat dalam melapangkan dada diantaranya adalah: prasangka negatif, pengaruh prinsip hidup, pengaruh pengalaman, pengaruh pembanding, pengaruh kepentingan dan prioritas, pengaruh sudut pandang, dan pengaruh literatur. Wallahu’alam bishshowab
"Silahkan diminum” kata sang kakek.
Betapa terkejutnya pemuda itu ketika ia meminum air yang dihidangkan oleh kakek itu.
“Ah… air apa ini kek? Kenapa rasanya asin sekali. Aku belum pernah minum air se-asin ini”.
Sang kakek hanya tersenyum, kemudian mengajak pemuda tersebut ke halaman belakang rumahnya yang luas. Disana terdapat sebuah danau kecil yang airnya bening bersih. Terlihat pula seekor angsa berenang kian kemari. Sang kakek kemudian mendekati pinggir danau dan menaburkan segenggam garam ke seluruh danau sambil menyuruh pemuda itu minum air danau. Tentu saja pemuda itu merasakan air danau yang segar, sejuk dan jernih.
Sang kakek berkata, "Perumpaan gelas dan danau ini adalah seperti hati kita, dan garam sebagai permasalahannya. Terkadang bukan banyaknya masalah yang membuat hati resah, gelisah, dan lainnya. Tetapi karena kita tidak pandai melapangkan dada kita. Segenggam garam ternyata jadi sangat asin dan tidak enak apabila ditaruh pada segelas air. Namun segenggam garam tidak berarti apa-apa apabila kita memiliki hati seluas danau atau lebih luas dari itu".
Cerita diatas sangat menarik untuk disimak dan diresapi karena begitu mudahnya penyakit hati tumbuh berkembang di hati kita. Beratnya masalah tidak mempengaruhi kesehatan hati kalau kita bisa berlapang dada. Orang–orang yang sempit dada (hati), pasti akan merasakan hidup ini sumpek dan berat.
Hati adalah hal yang paling penting dari diri manusia. Menurut Ibnul Qayyim Al Jauziyah, Hati adalah raja, dan anggota tubuh lain prajuritnya. Bahkan diterima atau tidaknya amal seorang anak manusia, tergantung dari hatinya. Allah mengingatkan kita mengenai pentingnya mengelola hati dengan menyuruh kita untuk tidak bersu’udzon karena sebagian darinya adalah dusta. Kita juga dilarang untuk mencari tahu (tajassus), serta selalu mengkonfirmasi setiap berita yang masuk ke kepala kita.
Rasulullah-pun mengingatkan bahwa di dalam diri manusia ada segumpal daging yang kalau baik daging itu maka baik pula seluruh tubuh dan apabila jahat (jelek) maka jelek pula seluruh tubuh. Segumpal daging itu adalah hati.
Kadang rasanya berat sekali untuk melapangkan dada ini ketika dikecewakan dan disakiti oleh orang lain. Bahkan persoalan kecilpun akhirnya menjadi besar karena sempitnya hati ini. Hati yang sempit selalu membuat diri ini tidak mampu menerima kebenaran.
Dalam konsep Zeromind Process (Ary Ginanjar, ESQ) kita diingatkan untuk selalu kembali ke fitrah atau hati nurani (Zeromind) sebelum melakukan dan memutuskan apapun. Hal–hal yang biasanya menghambat dalam melapangkan dada diantaranya adalah: prasangka negatif, pengaruh prinsip hidup, pengaruh pengalaman, pengaruh pembanding, pengaruh kepentingan dan prioritas, pengaruh sudut pandang, dan pengaruh literatur. Wallahu’alam bishshowab
MAAFKAN DAN LUPAKAN
Ini sebuah kisah tentang dua orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Ditengah perjalanan, mereka bertengkar, dan salah seorang menampar temannya. Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir : HARI INI, SAHABAT TERBAIK KU MENAMPAR PIPIKU.
Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil diselamatkan oleh sahabatnya. Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuat batu HARI INI, SAHABAT TERBAIK KU MENYELAMATKAN NYAWAKU.
Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya, "Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu ?" Temannya sambil tersenyum menjawab, "Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya diatas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila sesuatu yang luar biasa terjadi, kita harus memahatnya diatas batu hati kita, agar tidak bisa hilang tertiup angin."
Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil diselamatkan oleh sahabatnya. Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuat batu HARI INI, SAHABAT TERBAIK KU MENYELAMATKAN NYAWAKU.
Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya, "Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu ?" Temannya sambil tersenyum menjawab, "Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya diatas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila sesuatu yang luar biasa terjadi, kita harus memahatnya diatas batu hati kita, agar tidak bisa hilang tertiup angin."
WANITA YANG DIPENUHI RASA CINTA
Selalu, saya akan tenggelam dalam luasnya danau di keriput garis mata wanita itu; garis yang berkisah tentang kesabaran, perjuangan hidup, penderitaan dan pengorbanan serta maaf.
Menelusuri peta yang ada di wajahnya, saya tak pernah tersesat dalam membaca atau mencari sebuah kota bernama: keikhlasan. Kali ini, saya berusaha menyusun kepingan kesabaran dan danau maaf yang ada padanya dari sebuah drama kecil yang meluruhkan air mata saya pada akhir februari 2003 lalu, di sebuah bangsal kelas II Rumah Sakit Umum Giriwono, Wonogiri.
Tubuh renta wanita itu melangkah ragu, mungkin beberapa bagian disebabkan perjalanan sekitar dua jam dengan memakai bus. Ia memang hampir selalu mabuk dalam perjalanan semacam itu kendati hanya dalam bilangan jam.
"Mbah...!" suaranya bergetar saat berada di ambang pintu. Nanap, ia menatap sesosok tubuh yang tergolek di atas tempat tidur dengan berbagai selang; infus, bantuan pernapasan, dan saluran pembuangan. Laki-laki yang tergolek itu membalas tatapnya, menahan sejenak, lantas pelan-pelan dialihkan ke tempat lain. Ada sedu tertahan, sesak dalam dada.
"Bagaimana, Mbah?" kembali sapa wanita itu seraya mendekat dan
meraba kening si lelaki.
"Yang sakit bagian mana?" lanjutnya. Tangannya membelai kening lelaki itu dan turun ke telinganya. Lelaki itu telah dua hari dirawat di rumah sakit karena penyakit stroke. Tubuh bagian kanannya lumpuh. Lemah, tangan kiri si lelaki berusaha meraih tangan wanita itu, menggenggamnya lama, tetap dengan mata menghindari bertatap dengannya. Ada kepundan yang bergolak-golak di sana dan tangis yang enggan dipurnakan.
-----
Wanita itu tak lain adalah bekas istri dari lelaki yang kini tergolek tersebut. Lebih dua puluh tahun sudah keduanya berpisah. Sangat sah bagi si wanita itu apabila ia membenci bekas suaminya. Begitu banyak luka menganga yang ditinggalkan lelaki itu dalam perjalanan hidup yang ia alami. Sebelum resmi berpisah, suaminya menelantarkan dirinya berikut anak-anaknya. Suaminya lantas menikah dengan wanita lain, memenuhi istri mudanya dengan kekayaan dan kebahagian, sedangkan wanita ini terlunta-lunta memperjuangkan hidup yang ingin ia menangkan. Ya, nyaris tak ada apa pun yang diberikan suaminya selain penderitaan. Ia bukan resmi dicerai di PA, karena itu ia masih menjadi istri jika sewaktu-waktu suaminya pulang atau bertandang. Selalu tak ada apa apa yang di bawa lelaki itu selain perselisihan atau kekesalan pada istri mudanya dan si wanita akan menerimanya dengan sabar.
Tapi, selalu begitu, setelah ia kembali mengandung, suaminya akan segera pergi kembali pada istri mudanya, dan kembalilah ia berjuang terlunta-lunta dengan janin dalam kandungan. Tercatatlah, sembilan anak terlahir dari rahimnya, seorang di antaranya meninggal karena kekurangan air susu. Asinya tidak keluar oleh karena nyaris tak ada makanan layak yang ia konsumsi.
Di lain waktu, pernah selama beberapa minggu ia -berikut anak-anaknya-tidak makan nasi. Tidak ada beras tersisa. Kendati suaminya hidup berkecukupan bahkan boleh dibilang kaya, -- saat itu, suaminya menjabat kepala desa - ia tak hendak meminta, apalagi menuntut. Untuk bertahan hidup, ia dan anak-anaknya memakan daun-daunan yang direbus dengan campuran sedikit beras hasil utang. Jika waktu makan tiba, ia kumpulkan anak-anak, duduk melingkar memutari kuali tanah berisi bubur
daun-daunan tersebut dengan masing-masing memegang satu piring.
Lantas, pada piring masing-masing dituang bubur encer tersebut. Sungguh jauh dari cukup, apalagi rasa kenyang. Sementara... suami dan istri mudanya sekaligus anak-anak mereka makan dengan kenyang dan berlebihan.
Jika malam tiba, gubuk reot yang ia huni itu penuh rebak dengan cerita. Wanita ini gemar sekali mendongeng untuk anak-anaknya; satu-satunya hiburan yang bisa ia berikan pada anak-anak. Dengan sebuah lentera kecil yang berkedip-kedip ditiup angin, ia mendongeng Timun Mas, Kepel, Lutung
Kasarung, Roro Mendut-Pronocitro, Minakjinggo-Kenconowungu, dan sekian lagi dongeng yang ia kreasi sendiri. Anak-anaknya mendengarkan dengan
mata berbinar-binar. Kadang-kadang pula ia mengajarkan tembang-tembang
dolanan yang menjadi senandung riang pembawa semangat anak anaknya. Sambil bercerita itu, tangannya tak henti bekerja, kadang-kadang sampai larut malam; menganyam tikar pandan pesanan tetangga, mengupas singkong,
oncek dhele, prithil kacang, pipik jagung... pekerjaan-pekarjaan khas para petani yang darinya ia peroleh upah tak seberapa. Lantas, sementara ia terus mendongeng, satu per satu anak anaknya terlelap di atas tikar yang berlubang dan bertambal-tambal di sana-sini.
Setelah anak-anaknya tertidur, serentak, wajahnya yang semula berbinar-binar tanpa duka itu meredup. Ia menatap anak-anaknya yang tidur dengan mulut menganga dan perut berkeriut. Napasnya cekat. Tanpa permisi, air mata berbondong-bondong keluar oleh tindihan rasa nelangsa. Ya... di saat yang sama, suami dan istri mudanya berikut anak-anak mereka terlelap di atas kasur dengan selimut hangat dan perut kekenyangan. Dirinya masih harus merunut malam yang jauh. Dia tak berpikir akan bertahan hidup, tapi ia tak akan mengakhiri sendiri dengan bodoh.
"Saya tak percaya saya masih hidup sampai hari ini," ujarnya bertahun-tahun setelah itu. Yang ada dalam pikirannya adalah 'hidup dan bertahan'. Ia harus menyelesaikan semua itu dengan cara-cara pahlawan. Dengan menjadi buruh tani, ia terus mengais. Pekerjaan itu nyaris tak menjanjikan apa apa. Tak jarang, ia bekerja di sawah suaminya sendiri sebagai buruh dengan upah yang tidak lebih besar dari buruh yang lain, bahkan cenderung lebih kecil.
Entah, bagaimana ia mampu menjalani semua itu. Lantas, satu per satu anaknya lulus sekolah. Yang pertama menyelesaikan SMP, yang kedua bertahan hanya sampai SD, sedangkan yang ketiga tak mampu menyelesaikan pendidikan terendah sekalipun kendati justru ia anak paling cerdas diantara anak-anaknya yang lain. Bersama, ketiga anak ini memutuskan merantau ke Jakarta. Tentu saja tak begitu ada harapan bekerja di tempat yang nyaman. Ketiganya... menjadi pembantu. Tapi, kendati sedikit, ketiganya mulai bisa mengirim uang untuk orang tua dan adik-adiknya. Begitulah, wanita ini telah mengatur rupiah dengan begitu cermat. Ia bahkan tak menyentuh uang-uang kiriman itu, tapi kesemuanya digunakan untuk membiayai sekolah lima anaknya yang lain. Cukup ajaib, kelima anaknya tersebut berhasil menamatkan jenjang SLTA.
Hari-hari lesap ke bulan dan bulan tenggelam dalam tahun. Seperti hidupnya, waktu tidak berhenti berjalan. Satu per satu anaknya lulus, bekerja ... dan menikah. Biaya sekolah tidak melulu ditanggung anak pertama, tetapi selalu demikian... setiap ada yang lulus dan mulai bekerja, ia bertugas melanjutkan estafet amanah itu. Lagi-lagi, keajaiban dan bukti bahwa Allah Mahakasih, empat dari anak-anaknya tersebut lu es menjadi pegawai negeri sipil, sebuah pekerjaan yang cukup bergengsi untuk ukuran daerahnya. Saat sekolah pun, rata-rata mereka mendapat beasiswa atau keringanan biaya sebagai kompensasi dari prestasi yang diraih... atau minimal menjadi juara kelas. Namanya pun menjadi legenda di masyarakatnya bahwa anak-anaknya maupun cucu-cucunya pasti cerdas dan sukses. Bolehlah dikatakan begitu. Untuk ukuran orang seperti dirinya, tentulah apa yang ada sekarang ini merupakan sukses yang tidak terbilang. Masing-masing anaknya di Jakarta telah memiliki hunian yang layak -kendati kecil--, anak pertamanya malah berhasil masuk tes PNS di Mabes Polri kendati hanya dengan ijazah SMP. Anak-anaknya pun nyaris semua cukup disegani di lingkungannya, hal mana tidak demikian dengan anak anak suaminya dari istri mudanya. Tahun 2002, rumah yang ia huni yang dibangun anak anaknya pada tahun 1988, ambruk. Kondisinya memang telah reot. Anak-anaknya bukan tidak tahu, tapi Mereka tidak memperbaikinya dalam kurun yang cukup lama itu disebabkan mereka dilarang oleh sang ayah -suami dari wanita ini-untuk memperbaiki.
Laki-laki itu mungkin hatinya terbuat dari batu, tak juga bisa belajar dari kejadian kejadian yang ia alami. Tahun 1988, saat anak terakhir dari istrinya berusia 10 tahun, ia kembali terpikat wanita lain; seorang janda muda dari kampung sebelah. Karena tak bisa menikah resmi, keduanya -entahlah, mungkin nikah di bawah tangan-tinggal serumah. Kali ini, wanitanya tak 'sebaik' dan sesabar' dua istrinya terdahulu. Hartanya habis dalam bilangan tahun. Dan... empat tahun kemudian, jabatannya sebagai kepala desa berakhir. Hidup dengan sisa-sisa kejayaan masa lalu,wanita muda ini tidak bertahan. Ia memilih pergi meninggalkan si lelaki yang kini tak lagi bisa mencukupi kebutuhannya.
Lantas, seperti roda... hidup berputar. Allah terus memperjalankan takdirnya yang tak terkata namun bagian dari hal paling tetap dan niscaya. Bukan karma. Lelaki ini menjalani hidupnya sendiri, menjadi buruh tani -karena sawahnya telah habis terjual-dan tinggal di kesunyian rumahnya: tanpa anak dan istri. Sementara istrinya -si wanita ini mulai merasai kebahagiaan dari hidup yang lebih layak, riang dipenuhi jeritan
manja cucu-cucu dan rengekan mereka. Maka, meradanglah si lelaki saat anak-anaknya berniat membangun sebuah rumah untuk ibunya karena rumah yang kemarin rubuh.
Tak hanya fitnah, teror pun dilangsungkan. Anak-anaknya tak menyerah,
tetap berusaha membangun rumah itu karena memang sudah tidak bisa ditunda lagi. Dulu mereka menahan-nahan niat tersebut selama bertahun-tahun, dan sekarang tak bisa lagi.
Tersebutlah, di suatu malam, si wanita -istrinya yang telah ditelantarkan itu-mendengar suara berisik ayam-ayam di kandang. Berjingkat, ia membuka pintu belakang rumah. Masih sempat sekilas ia melihat suaminya menaburkan sesuatu di sudut luar rumah. Kendati dalam remang, ia masih bisa mengenali bahwa sosok itu adalah suaminya. Paginya, tiba-tiba ia lumpuh. Tubuhnya lemah dan tak bisa berdiri. Orang-orang menduga itu teluh. Setelah dirawat beberapa saat di RS, alhamdulillah ia sembuh. Teror tak berhenti. Suaminya, secara terbuka, mendoakan agar kayu-kayu rumahnya keropos dimakan rayap. Dan doanya terkabul, tapi kali ini bukan pada rumah si wanita, melainkan rumahnya sendiri. Beberapa waktu kemudian ia mengancam akan membakar rumah itu, dan sekali lagi, rencana itu -kendati bukan dia-terlaksana. Juga bukan pada rumah si wanita, melainkan rumahnya sendiri. Karena lupa memadamkan api di tungku, rumah belakangnya terbakar.
Itu semua belum berakhir. Dalam kesendirian yang diliputi rasa dengki dan iri, ia mendoakan agar si wanita ini diserang penyakit. Dan lagi.... doanya terkabul, juga bukan untuk si wanita, tapi untuk dirinya sendiri. Tiba-tiba, orang-orang menemukan lelaki itu tak bisa bicara dan sebelah tubuhnya lumpuh. Ia terserang stroke untuk pertama kali yang sekaligus masuk dalam stadium kritis. Anak-anaknya membawanya ke rumah sakit. Dan...kejadian hari itu adalah bak sebuah drama nyata. Sebuah babak yang luar biasa indah saat si wanita -dengan langkah ragu dan bergetar, sebagian oleh sisa perjalanan yang membuatnya mabuk darat-menjenguk bekas suaminya yang tergolek di rumah sakit. Ada pancaran iba dan kasih yang tulus saat ia meraba, mengusap, dan bertanya tentang kabar dengan terbata bata. Mesra sekali saat ia memijit kaki lelaki itu.
"Piye rasane, Mbah?" tanyanya dengan panggilan mesra. Mbah? Aduhai, nyaman sekali. Saat belum punya anak, ia memanggil lelaki ini dengan sebutan 'Kakang,' saat sudah punya anak dengan sebutan 'Pak', dan saat telah dianugerahi cucu demikian banyak, ia memanggilnya 'Mbah' Ge , angan kiri lelaki ini -karena tubuh bagian kanannya lumpuh-menggenggam tangan renta yang mengusap keningnya, seakan ia menikmati belaian lembut tersebut dan menahannya sesaat agar jangan terlalu cepat sirna. Kendati pandangannya dibuang ke sisi lain menghindari wajah -bekas-istrinya ini, ia tak bisa mengingkari ada lautan maaf dan cinta yang telah menggelombanginya. Melihatnya, saya tak kuasa menahan isak. Seperti lelaki itu, tangis saya cekat di kerongkongan sementara air mata sudah berbondong-bondong menitik tanpa bisa dicegah lagi. Sesak sekali dada
saya oleh rasa haru yang menekan-nekan.
Ya... melihat wanita ini, saya seperti tenggelam dalam laut kesabaran. Dan... dialah wanita tercantik yang pernah saya jumpai di dunia ini.
Dia... tak lain adalah ibu saya. Ya Allah... ampunilah dosanya, maafkanlah kesalahannya dan kasihilah dia sebagaimana ia mengasihi kami dalam suka dan duka.
Menelusuri peta yang ada di wajahnya, saya tak pernah tersesat dalam membaca atau mencari sebuah kota bernama: keikhlasan. Kali ini, saya berusaha menyusun kepingan kesabaran dan danau maaf yang ada padanya dari sebuah drama kecil yang meluruhkan air mata saya pada akhir februari 2003 lalu, di sebuah bangsal kelas II Rumah Sakit Umum Giriwono, Wonogiri.
Tubuh renta wanita itu melangkah ragu, mungkin beberapa bagian disebabkan perjalanan sekitar dua jam dengan memakai bus. Ia memang hampir selalu mabuk dalam perjalanan semacam itu kendati hanya dalam bilangan jam.
"Mbah...!" suaranya bergetar saat berada di ambang pintu. Nanap, ia menatap sesosok tubuh yang tergolek di atas tempat tidur dengan berbagai selang; infus, bantuan pernapasan, dan saluran pembuangan. Laki-laki yang tergolek itu membalas tatapnya, menahan sejenak, lantas pelan-pelan dialihkan ke tempat lain. Ada sedu tertahan, sesak dalam dada.
"Bagaimana, Mbah?" kembali sapa wanita itu seraya mendekat dan
meraba kening si lelaki.
"Yang sakit bagian mana?" lanjutnya. Tangannya membelai kening lelaki itu dan turun ke telinganya. Lelaki itu telah dua hari dirawat di rumah sakit karena penyakit stroke. Tubuh bagian kanannya lumpuh. Lemah, tangan kiri si lelaki berusaha meraih tangan wanita itu, menggenggamnya lama, tetap dengan mata menghindari bertatap dengannya. Ada kepundan yang bergolak-golak di sana dan tangis yang enggan dipurnakan.
-----
Wanita itu tak lain adalah bekas istri dari lelaki yang kini tergolek tersebut. Lebih dua puluh tahun sudah keduanya berpisah. Sangat sah bagi si wanita itu apabila ia membenci bekas suaminya. Begitu banyak luka menganga yang ditinggalkan lelaki itu dalam perjalanan hidup yang ia alami. Sebelum resmi berpisah, suaminya menelantarkan dirinya berikut anak-anaknya. Suaminya lantas menikah dengan wanita lain, memenuhi istri mudanya dengan kekayaan dan kebahagian, sedangkan wanita ini terlunta-lunta memperjuangkan hidup yang ingin ia menangkan. Ya, nyaris tak ada apa pun yang diberikan suaminya selain penderitaan. Ia bukan resmi dicerai di PA, karena itu ia masih menjadi istri jika sewaktu-waktu suaminya pulang atau bertandang. Selalu tak ada apa apa yang di bawa lelaki itu selain perselisihan atau kekesalan pada istri mudanya dan si wanita akan menerimanya dengan sabar.
Tapi, selalu begitu, setelah ia kembali mengandung, suaminya akan segera pergi kembali pada istri mudanya, dan kembalilah ia berjuang terlunta-lunta dengan janin dalam kandungan. Tercatatlah, sembilan anak terlahir dari rahimnya, seorang di antaranya meninggal karena kekurangan air susu. Asinya tidak keluar oleh karena nyaris tak ada makanan layak yang ia konsumsi.
Di lain waktu, pernah selama beberapa minggu ia -berikut anak-anaknya-tidak makan nasi. Tidak ada beras tersisa. Kendati suaminya hidup berkecukupan bahkan boleh dibilang kaya, -- saat itu, suaminya menjabat kepala desa - ia tak hendak meminta, apalagi menuntut. Untuk bertahan hidup, ia dan anak-anaknya memakan daun-daunan yang direbus dengan campuran sedikit beras hasil utang. Jika waktu makan tiba, ia kumpulkan anak-anak, duduk melingkar memutari kuali tanah berisi bubur
daun-daunan tersebut dengan masing-masing memegang satu piring.
Lantas, pada piring masing-masing dituang bubur encer tersebut. Sungguh jauh dari cukup, apalagi rasa kenyang. Sementara... suami dan istri mudanya sekaligus anak-anak mereka makan dengan kenyang dan berlebihan.
Jika malam tiba, gubuk reot yang ia huni itu penuh rebak dengan cerita. Wanita ini gemar sekali mendongeng untuk anak-anaknya; satu-satunya hiburan yang bisa ia berikan pada anak-anak. Dengan sebuah lentera kecil yang berkedip-kedip ditiup angin, ia mendongeng Timun Mas, Kepel, Lutung
Kasarung, Roro Mendut-Pronocitro, Minakjinggo-Kenconowungu, dan sekian lagi dongeng yang ia kreasi sendiri. Anak-anaknya mendengarkan dengan
mata berbinar-binar. Kadang-kadang pula ia mengajarkan tembang-tembang
dolanan yang menjadi senandung riang pembawa semangat anak anaknya. Sambil bercerita itu, tangannya tak henti bekerja, kadang-kadang sampai larut malam; menganyam tikar pandan pesanan tetangga, mengupas singkong,
oncek dhele, prithil kacang, pipik jagung... pekerjaan-pekarjaan khas para petani yang darinya ia peroleh upah tak seberapa. Lantas, sementara ia terus mendongeng, satu per satu anak anaknya terlelap di atas tikar yang berlubang dan bertambal-tambal di sana-sini.
Setelah anak-anaknya tertidur, serentak, wajahnya yang semula berbinar-binar tanpa duka itu meredup. Ia menatap anak-anaknya yang tidur dengan mulut menganga dan perut berkeriut. Napasnya cekat. Tanpa permisi, air mata berbondong-bondong keluar oleh tindihan rasa nelangsa. Ya... di saat yang sama, suami dan istri mudanya berikut anak-anak mereka terlelap di atas kasur dengan selimut hangat dan perut kekenyangan. Dirinya masih harus merunut malam yang jauh. Dia tak berpikir akan bertahan hidup, tapi ia tak akan mengakhiri sendiri dengan bodoh.
"Saya tak percaya saya masih hidup sampai hari ini," ujarnya bertahun-tahun setelah itu. Yang ada dalam pikirannya adalah 'hidup dan bertahan'. Ia harus menyelesaikan semua itu dengan cara-cara pahlawan. Dengan menjadi buruh tani, ia terus mengais. Pekerjaan itu nyaris tak menjanjikan apa apa. Tak jarang, ia bekerja di sawah suaminya sendiri sebagai buruh dengan upah yang tidak lebih besar dari buruh yang lain, bahkan cenderung lebih kecil.
Entah, bagaimana ia mampu menjalani semua itu. Lantas, satu per satu anaknya lulus sekolah. Yang pertama menyelesaikan SMP, yang kedua bertahan hanya sampai SD, sedangkan yang ketiga tak mampu menyelesaikan pendidikan terendah sekalipun kendati justru ia anak paling cerdas diantara anak-anaknya yang lain. Bersama, ketiga anak ini memutuskan merantau ke Jakarta. Tentu saja tak begitu ada harapan bekerja di tempat yang nyaman. Ketiganya... menjadi pembantu. Tapi, kendati sedikit, ketiganya mulai bisa mengirim uang untuk orang tua dan adik-adiknya. Begitulah, wanita ini telah mengatur rupiah dengan begitu cermat. Ia bahkan tak menyentuh uang-uang kiriman itu, tapi kesemuanya digunakan untuk membiayai sekolah lima anaknya yang lain. Cukup ajaib, kelima anaknya tersebut berhasil menamatkan jenjang SLTA.
Hari-hari lesap ke bulan dan bulan tenggelam dalam tahun. Seperti hidupnya, waktu tidak berhenti berjalan. Satu per satu anaknya lulus, bekerja ... dan menikah. Biaya sekolah tidak melulu ditanggung anak pertama, tetapi selalu demikian... setiap ada yang lulus dan mulai bekerja, ia bertugas melanjutkan estafet amanah itu. Lagi-lagi, keajaiban dan bukti bahwa Allah Mahakasih, empat dari anak-anaknya tersebut lu es menjadi pegawai negeri sipil, sebuah pekerjaan yang cukup bergengsi untuk ukuran daerahnya. Saat sekolah pun, rata-rata mereka mendapat beasiswa atau keringanan biaya sebagai kompensasi dari prestasi yang diraih... atau minimal menjadi juara kelas. Namanya pun menjadi legenda di masyarakatnya bahwa anak-anaknya maupun cucu-cucunya pasti cerdas dan sukses. Bolehlah dikatakan begitu. Untuk ukuran orang seperti dirinya, tentulah apa yang ada sekarang ini merupakan sukses yang tidak terbilang. Masing-masing anaknya di Jakarta telah memiliki hunian yang layak -kendati kecil--, anak pertamanya malah berhasil masuk tes PNS di Mabes Polri kendati hanya dengan ijazah SMP. Anak-anaknya pun nyaris semua cukup disegani di lingkungannya, hal mana tidak demikian dengan anak anak suaminya dari istri mudanya. Tahun 2002, rumah yang ia huni yang dibangun anak anaknya pada tahun 1988, ambruk. Kondisinya memang telah reot. Anak-anaknya bukan tidak tahu, tapi Mereka tidak memperbaikinya dalam kurun yang cukup lama itu disebabkan mereka dilarang oleh sang ayah -suami dari wanita ini-untuk memperbaiki.
Laki-laki itu mungkin hatinya terbuat dari batu, tak juga bisa belajar dari kejadian kejadian yang ia alami. Tahun 1988, saat anak terakhir dari istrinya berusia 10 tahun, ia kembali terpikat wanita lain; seorang janda muda dari kampung sebelah. Karena tak bisa menikah resmi, keduanya -entahlah, mungkin nikah di bawah tangan-tinggal serumah. Kali ini, wanitanya tak 'sebaik' dan sesabar' dua istrinya terdahulu. Hartanya habis dalam bilangan tahun. Dan... empat tahun kemudian, jabatannya sebagai kepala desa berakhir. Hidup dengan sisa-sisa kejayaan masa lalu,wanita muda ini tidak bertahan. Ia memilih pergi meninggalkan si lelaki yang kini tak lagi bisa mencukupi kebutuhannya.
Lantas, seperti roda... hidup berputar. Allah terus memperjalankan takdirnya yang tak terkata namun bagian dari hal paling tetap dan niscaya. Bukan karma. Lelaki ini menjalani hidupnya sendiri, menjadi buruh tani -karena sawahnya telah habis terjual-dan tinggal di kesunyian rumahnya: tanpa anak dan istri. Sementara istrinya -si wanita ini mulai merasai kebahagiaan dari hidup yang lebih layak, riang dipenuhi jeritan
manja cucu-cucu dan rengekan mereka. Maka, meradanglah si lelaki saat anak-anaknya berniat membangun sebuah rumah untuk ibunya karena rumah yang kemarin rubuh.
Tak hanya fitnah, teror pun dilangsungkan. Anak-anaknya tak menyerah,
tetap berusaha membangun rumah itu karena memang sudah tidak bisa ditunda lagi. Dulu mereka menahan-nahan niat tersebut selama bertahun-tahun, dan sekarang tak bisa lagi.
Tersebutlah, di suatu malam, si wanita -istrinya yang telah ditelantarkan itu-mendengar suara berisik ayam-ayam di kandang. Berjingkat, ia membuka pintu belakang rumah. Masih sempat sekilas ia melihat suaminya menaburkan sesuatu di sudut luar rumah. Kendati dalam remang, ia masih bisa mengenali bahwa sosok itu adalah suaminya. Paginya, tiba-tiba ia lumpuh. Tubuhnya lemah dan tak bisa berdiri. Orang-orang menduga itu teluh. Setelah dirawat beberapa saat di RS, alhamdulillah ia sembuh. Teror tak berhenti. Suaminya, secara terbuka, mendoakan agar kayu-kayu rumahnya keropos dimakan rayap. Dan doanya terkabul, tapi kali ini bukan pada rumah si wanita, melainkan rumahnya sendiri. Beberapa waktu kemudian ia mengancam akan membakar rumah itu, dan sekali lagi, rencana itu -kendati bukan dia-terlaksana. Juga bukan pada rumah si wanita, melainkan rumahnya sendiri. Karena lupa memadamkan api di tungku, rumah belakangnya terbakar.
Itu semua belum berakhir. Dalam kesendirian yang diliputi rasa dengki dan iri, ia mendoakan agar si wanita ini diserang penyakit. Dan lagi.... doanya terkabul, juga bukan untuk si wanita, tapi untuk dirinya sendiri. Tiba-tiba, orang-orang menemukan lelaki itu tak bisa bicara dan sebelah tubuhnya lumpuh. Ia terserang stroke untuk pertama kali yang sekaligus masuk dalam stadium kritis. Anak-anaknya membawanya ke rumah sakit. Dan...kejadian hari itu adalah bak sebuah drama nyata. Sebuah babak yang luar biasa indah saat si wanita -dengan langkah ragu dan bergetar, sebagian oleh sisa perjalanan yang membuatnya mabuk darat-menjenguk bekas suaminya yang tergolek di rumah sakit. Ada pancaran iba dan kasih yang tulus saat ia meraba, mengusap, dan bertanya tentang kabar dengan terbata bata. Mesra sekali saat ia memijit kaki lelaki itu.
"Piye rasane, Mbah?" tanyanya dengan panggilan mesra. Mbah? Aduhai, nyaman sekali. Saat belum punya anak, ia memanggil lelaki ini dengan sebutan 'Kakang,' saat sudah punya anak dengan sebutan 'Pak', dan saat telah dianugerahi cucu demikian banyak, ia memanggilnya 'Mbah' Ge , angan kiri lelaki ini -karena tubuh bagian kanannya lumpuh-menggenggam tangan renta yang mengusap keningnya, seakan ia menikmati belaian lembut tersebut dan menahannya sesaat agar jangan terlalu cepat sirna. Kendati pandangannya dibuang ke sisi lain menghindari wajah -bekas-istrinya ini, ia tak bisa mengingkari ada lautan maaf dan cinta yang telah menggelombanginya. Melihatnya, saya tak kuasa menahan isak. Seperti lelaki itu, tangis saya cekat di kerongkongan sementara air mata sudah berbondong-bondong menitik tanpa bisa dicegah lagi. Sesak sekali dada
saya oleh rasa haru yang menekan-nekan.
Ya... melihat wanita ini, saya seperti tenggelam dalam laut kesabaran. Dan... dialah wanita tercantik yang pernah saya jumpai di dunia ini.
Dia... tak lain adalah ibu saya. Ya Allah... ampunilah dosanya, maafkanlah kesalahannya dan kasihilah dia sebagaimana ia mengasihi kami dalam suka dan duka.
MENJADI APAPUN DIRIMU
Menjadi karanglah, meski tidak mudah. Sebab ia akan menahan sengat binar mentari yang garang. Sebab ia akan kukuh halangi deru ombak yang kuat menerpa tanpa kenal lelah. Sebab ia akan melawan bayu yang keras menghembus dan menerpa dengan dingin yang coba membekukan. Sebab ia akan menahan hempas badai yang datang menggerus terus-menerus dan coba melemahkan keteguhannya. Sebab ia akan kokohkan diri agar tak mudah hancur dan terbawa arus. Sebab ia akan berdiri tegak berhari-hari, bertahun-tahun, berabad-abad, tanpa rasa jemu dan bosan.
Menjadi pohonlah yang tinggi menjulang, meski itu tidak mudah. Sebab ia akan tatap tegar bara mentari yang terus menyala setiap siangnya. Sebab ia akan meliuk halangi angin yang bertiup kasar. Sebab ia akan terus menjejak bumi hadapi gemuruh sang petir. Sebab ia akan hujamkan akar yang kuat untuk menopang. Sebab ia akan menahan gempita hujan yang coba merubuhkan. Sebab ia akan senantiasa berikan bebuahan yang manis dan mengenyangkan. Sebab ia akan berikan tempat bernaung bagi burung-burung yang singgah di dahannya. Sebab ia akan berikan tempat berlindung dengan rindang daun-daunnya.
Menjadi ikan pauslah, meski itu tak mudah. Sebab dengan sedikit kecipaknya, ia akan menggetarkan ujung samudera. Sebab besar tubuhnya akan menakutkan musuh yang coba mengganggu. Sebab sikap diamnya akan membuat tenang laut dan seisinya.
Menjadi elanglah dengan segala kejantanannya, meski itu juga tidak mudah. Sebab ia harus melayang tinggi menembus birunya langit. Sebab ia harus melanglang buana untuk mengenal medannya. Sebab ia harus melawan angin yang menerpa dari segala penjuru. Sebab ia harus mengangkasa jauh tanpa takut jatuh. Sebab ia harus kembali ke sarang dengan makanan di paruhnya. Sebab ia harus menukik tajam mencengkeram mangsa. Sebab ia harus menjelajah cakrawala dengan kepak sayap yang membentang gagah.
Menjadi melatilah, meski tampak tak bermakna. Sebab ia akan tebar harum wewangian tanpa meminta balasan. Sebab ia begitu putih, seolah tanpa cacat. Sebab ia tak takut hadapi angin dengan mungil tubuhnya. Sebab ia tak ragu hadapi hujan yang membuatnya basah. Sebab ia tak pernah iri melihat mawar yang merekah segar. Sebab ia tak pernah malu pada bunga matahari yang menjulang tinggi. Sebab ia tak pernah rendah diri pada anggrek yang anggun. Sebab ia tak pernah dengki pada tulip yang berwarna-warni. Sebab ia tak gentar layu karena pahami hakikat hidupnya.
Menjadi mutiaralah, meski itu tak mudah. Sebab ia berada di dasar samudera yang dalam. Sebab ia begitu sulit dijangkau oleh tangan-tangan manusia. Sebab ia begitu berharga. Sebab ia begitu indah dipandang mata. Sebab ia tetap bersinar meski tenggelam di kubangan yang hitam.
Menjadi kupu-kupulah, meski itu tak mudah pula. Sebab ia harus melewati proses-proses sulit sebelum dirinya saat ini. Sebab ia lalui semedi panjang tanpa rasa bosan. Sebab ia bersembunyi dan menahan diri dari segala yang menyenangkan, hingga kemudian tiba saat untuk keluar.
Karang akan hadapi hujan, terik sinar mentari, badai, juga gelombang. Elang akan menembus lapis langit, mengangkasa jauh, melayang tinggi dan tak pernah lelah untuk terus mengembara dengan bentangan sayapnya. Ikan Paus akan menggetarkan samudera hanya dengan sedikit gerakan. Pohon akan hadapi petir, deras hujan, silau matahari, namun selalu berusaha menaungi. Melati ikhlas untuk selalu menerima keadaannya, meski tak terhitung pula bunga-bunga lain dengan segala kecantikannya. Kupu-kupu berusaha bertahan, meski saat-saat diam adalah kejenuhan. Mutiara tak memudar kelam, meski pekat lingkungan mengepungnya di kiri-kanan, depan dan belakang.
Tapi karang menjadi kokoh dengan segala ujian. Elang menjadi tangguh, tak hiraukan lelah tatkala terbang melintasi bermilyar kilo bentang cakrawala. Paus menjadi kuat dengan besar tubuhnya dalam luas samudera. Pohon tetap menjadi naungan meski ia hadapi beribu gangguan. Melati menjadi bijak dengan dada yang lapang, dan justru terlihat indah dengan segala kesederhanaan. Mutiara tetap bersinar dimana pun ia terletak, dimana pun ia berada. Kupu-kupu hadapi cerah dunia meskipun lalui perjuangan panjang dalam kesendirian.
Menjadi apapun dirimu…, bersyukurlah selalu. Sebab kau yang paling tahu siapa dirimu. Sebab kau yakini kekuatanmu. Sebab kau sadari kelemahanmu. Jadilah karang yang kokoh, elang yang perkasa, paus yang besar, pohon yang menjulang dengan akar menghujam, melati yang senantiasa mewangi, mutiara yang indah, kupu-kupu, atau apapun yang kau mau. Tapi, tetaplah sadari bahwa kamu adalah seorang hamba, seorang yang lemah dihadapanNYA! Itulah dirimu.
Menjadi pohonlah yang tinggi menjulang, meski itu tidak mudah. Sebab ia akan tatap tegar bara mentari yang terus menyala setiap siangnya. Sebab ia akan meliuk halangi angin yang bertiup kasar. Sebab ia akan terus menjejak bumi hadapi gemuruh sang petir. Sebab ia akan hujamkan akar yang kuat untuk menopang. Sebab ia akan menahan gempita hujan yang coba merubuhkan. Sebab ia akan senantiasa berikan bebuahan yang manis dan mengenyangkan. Sebab ia akan berikan tempat bernaung bagi burung-burung yang singgah di dahannya. Sebab ia akan berikan tempat berlindung dengan rindang daun-daunnya.
Menjadi ikan pauslah, meski itu tak mudah. Sebab dengan sedikit kecipaknya, ia akan menggetarkan ujung samudera. Sebab besar tubuhnya akan menakutkan musuh yang coba mengganggu. Sebab sikap diamnya akan membuat tenang laut dan seisinya.
Menjadi elanglah dengan segala kejantanannya, meski itu juga tidak mudah. Sebab ia harus melayang tinggi menembus birunya langit. Sebab ia harus melanglang buana untuk mengenal medannya. Sebab ia harus melawan angin yang menerpa dari segala penjuru. Sebab ia harus mengangkasa jauh tanpa takut jatuh. Sebab ia harus kembali ke sarang dengan makanan di paruhnya. Sebab ia harus menukik tajam mencengkeram mangsa. Sebab ia harus menjelajah cakrawala dengan kepak sayap yang membentang gagah.
Menjadi melatilah, meski tampak tak bermakna. Sebab ia akan tebar harum wewangian tanpa meminta balasan. Sebab ia begitu putih, seolah tanpa cacat. Sebab ia tak takut hadapi angin dengan mungil tubuhnya. Sebab ia tak ragu hadapi hujan yang membuatnya basah. Sebab ia tak pernah iri melihat mawar yang merekah segar. Sebab ia tak pernah malu pada bunga matahari yang menjulang tinggi. Sebab ia tak pernah rendah diri pada anggrek yang anggun. Sebab ia tak pernah dengki pada tulip yang berwarna-warni. Sebab ia tak gentar layu karena pahami hakikat hidupnya.
Menjadi mutiaralah, meski itu tak mudah. Sebab ia berada di dasar samudera yang dalam. Sebab ia begitu sulit dijangkau oleh tangan-tangan manusia. Sebab ia begitu berharga. Sebab ia begitu indah dipandang mata. Sebab ia tetap bersinar meski tenggelam di kubangan yang hitam.
Menjadi kupu-kupulah, meski itu tak mudah pula. Sebab ia harus melewati proses-proses sulit sebelum dirinya saat ini. Sebab ia lalui semedi panjang tanpa rasa bosan. Sebab ia bersembunyi dan menahan diri dari segala yang menyenangkan, hingga kemudian tiba saat untuk keluar.
Karang akan hadapi hujan, terik sinar mentari, badai, juga gelombang. Elang akan menembus lapis langit, mengangkasa jauh, melayang tinggi dan tak pernah lelah untuk terus mengembara dengan bentangan sayapnya. Ikan Paus akan menggetarkan samudera hanya dengan sedikit gerakan. Pohon akan hadapi petir, deras hujan, silau matahari, namun selalu berusaha menaungi. Melati ikhlas untuk selalu menerima keadaannya, meski tak terhitung pula bunga-bunga lain dengan segala kecantikannya. Kupu-kupu berusaha bertahan, meski saat-saat diam adalah kejenuhan. Mutiara tak memudar kelam, meski pekat lingkungan mengepungnya di kiri-kanan, depan dan belakang.
Tapi karang menjadi kokoh dengan segala ujian. Elang menjadi tangguh, tak hiraukan lelah tatkala terbang melintasi bermilyar kilo bentang cakrawala. Paus menjadi kuat dengan besar tubuhnya dalam luas samudera. Pohon tetap menjadi naungan meski ia hadapi beribu gangguan. Melati menjadi bijak dengan dada yang lapang, dan justru terlihat indah dengan segala kesederhanaan. Mutiara tetap bersinar dimana pun ia terletak, dimana pun ia berada. Kupu-kupu hadapi cerah dunia meskipun lalui perjuangan panjang dalam kesendirian.
Menjadi apapun dirimu…, bersyukurlah selalu. Sebab kau yang paling tahu siapa dirimu. Sebab kau yakini kekuatanmu. Sebab kau sadari kelemahanmu. Jadilah karang yang kokoh, elang yang perkasa, paus yang besar, pohon yang menjulang dengan akar menghujam, melati yang senantiasa mewangi, mutiara yang indah, kupu-kupu, atau apapun yang kau mau. Tapi, tetaplah sadari bahwa kamu adalah seorang hamba, seorang yang lemah dihadapanNYA! Itulah dirimu.
Langganan:
Postingan (Atom)
